Gemuruh 81 Tahun Kemerdekaan Api Perlawanan dari Tanah Mandar
Bidikcelebes.com | Makassar – Darah dan air mata para leluhur membasahi bumi nusantara agar satu kata suci terpahat abadi: Merdeka! Namun hari ini, saat meriam seremonial meledak di angkasa dan kain merah putih berkibar menyongsong usia negara yang ke-81, dada kita bergetar oleh pertanyaan yang membakar. Apakah kemerdekaan ini milik seluruh rakyat dari ujung ke ujung, atau hanya jubah megah yang dipakai oleh segelintir penguasa ?.
Lihatlah betapa luka lama masih menganga lebar tanpa pernah benar-benar disembuhkan. Dari gemerisik angin di Aceh hingga pegunungan sunyi di tanah Papua, nyanyian duka itu masih terdengar sama. Saudara-saudara kita menangis di atas tanah kandungnya sendiri, merasa terasing dan terjajah ketika ruang hidup mereka ditumbalkan demi syahwat pembangunan yang tak pernah mengecap kata cukup.
Kemerdekaan terasa makin semu saat kita mendapati angka kemiskinan terus mengikat leher rakyat kecil tanpa ampun. Di saat yang sama, sektor pendidikan yang seharusnya menjadi pilar utama penyulut cita-cita bangsa justru terus dianaktirikan dan dijadikan komoditas pasar. Anak-anak negeri dituntut bermimpi tinggi, namun tangga untuk memanjatnya sengaja dihancurkan oleh ketidakpedulian negara.
Jeritan nasional itu bukan sekadar cerita jauh di balik layar kaca, melainkan kenyataan pahit yang menusuk di daerah kita sendiri: Polewali Mandar. Di bumi Tanah Mandar, parade kemerdekaan yang diagung-agungkan tiap tahun selalu berbenturan keras dengan air mata warga yang saban hari mengejar sesuap nasi di tengah himpitan ekonomi yang mencekik.
Tataplah mata anak-anak di sudut-sudut desa Polman yang terpaksa mengubur dalam-dalam cita-citanya karena putus sekolah. Fenomena Anak Tidak Sekolah (ATS) di daerah ini adalah bukti telanjang bahwa negara telah gagal memenuhi janji paling mendasarnya. Fasilitas belajar yang lapuk dan akses pendidikan yang sulit di pelosok Polman menjadi saksi bisu betapa masa depan generasi muda kerap dipertaruhkan.
Kondisi para nelayan di pesisir dan petani di perbukitan Polman pun tak kalah merana. Di tengah keterbatasan hidup, ruang gerak dan tempat mereka menggantungkan nasib makin terhimpit oleh kebijakan yang tidak pernah memihak pada rakyat kecil. Mereka bertaruh nyawa dan tenaga setiap hari, hanya untuk mendapati bahwa tanah kelahirannya sendiri tak lagi ramah memberikan penghidupan yang layak.
Ironisnya, di tengah luka yang menganga itu, pemerintah pusat justru sibuk menggelontorkan program-program prioritas dari atas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih. Di atas kertas, program-program ini dipamerkan bagai juru selamat. Namun bagi masyarakat di tapak Polewali Mandar, proyek serba instan ini terasa asing dan tidak menjawab akar masalah yang sebenarnya mereka hadapi sehari-hari.
Anggaran dan energi negara tersedot habis untuk proyek pencitraan yang megah, sementara fondasi utama perbaikan sekolah, penuntasan kemiskinan, dan perlindungan tanah warga dibiarkan terbengkalai. Di usia Indonesia yang ke-81 ini, saatnya kita menyalakan kembali api kesadaran kemerdekaan bukanlah hadiah seremonial, melainkan kedaulatan penuh rakyat atas tanah, pendidikan, dan masa depannya sendiri !!!.
Makassar, 17 Agustus 2026
Muhammad Radiansyah (Ketua Umum KPM – PM Cab.Polewali)